![]() |
| BUMDes Hantara kini tengah memacu langkah menuju swasembada pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi warganya |
Kepala yunit Unit usaha Santo Santosa , di Damping kepala desa menjelaskan bahwa pihaknya saat ini tengah mengelola Tujuh kolam pembesaran dan satu kolam pendederan ikan lele. Selain itu, lahan seluas kurang lebih 600 meter persegi juga telah disewa untuk kegiatan pertanian.
“Untuk tahap awal, kami menyewa lahan Tujuh kolam pembesaran dan satu kolam pendederan ikan lele. Begitu pula sawah dengan kisaran 600 meter . Alhamdulillah, ini sudah mulai berjalan. Bahkan saat survei kolam, turut hadir pihak Pemerintah Desa Hantara serta saat ditemui pada Kamis (23/07/2025).
Menurutnya, program ini tak sekadar berbicara soal produksi pangan. Lebih dari itu, program ini membuka peluang kerja bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup dari sektor pertanian dan perikanan.
“Ini bukan hanya soal panen, tapi juga soal bagaimana menciptakan lapangan kerja di desa sendiri. Kami ingin agar potensi lokal dikelola secara maksimal untuk kesejahteraan bersama,” ungkapnya optimis.
Sementara itu, Kepala Desa Hantara , Asep Cahyana memberikan apresiasi atas langkah progresif BUMDes Hantara yang dinilai sejalan dengan arahan pemerintah pusat mengenai penguatan ketahanan pangan berbasis desa.
“Tentunya kegiatan positif ini akan terus kami dorong guna mendukung program pemerintah. Alokasi 20 persen dana desa untuk ketahanan pangan sudah terlihat manfaatnya secara langsung bagi masyarakat,” tegas Asep
Ia juga berharap program budidaya ikan lele dan pertanian ini bisa menjadi contoh nyata bagi desa-desa lain dalam memanfaatkan dana desa secara produktif dan berkelanjutan.
“Ini bisa jadi role model untuk desa-desa lain. Ketika dana desa benar-benar dimanfaatkan untuk program berkelanjutan,hasilnya akan dirasakan langsung oleh warga,” tambahnya.
Dengan menggandeng partisipasi masyarakat dan dukungan dari pemerintah desa, program budidaya ikan lele dan pertanian yang dikelola BUMDes Hantara menjadi bukti nyata bahwa ketahanan pangan bukan sekadar wacana, melainkan bisa diwujudkan melalui kerja cerdas dan kolaboratif. Pungkas nya
(Agus)





