
Dedi Mulyadi mengundang perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus se-Jabar
ratusan mahasiswa hadir dan diberikan kesempatan berbicara di depan Gubernur, Ketua DPRD Jabar hingga Kapolda Jabar. "Pemerintah Provinsi Jawa Barat membuka ruang dialog bagi mahasiswa di Jawa Barat untuk hadir di halaman Gedung Sate,"
kata Dedi Mulyadi. Pantauan Bisnis, mahasiswa duduk di karpet depan Gedung Sate bersama para pejabat eselon II Pemprov Jabar, anggota DPRD Jabar serta Gubernur Jabar Dedi Mulyadi.
Di tengah matahari yang mulai terik, satu persatu perwakilan mahasiswa dari Tasikmalaya, Bandung, Bogor dipersilahkan menyampaikan kritik dan aspirasi.
Beragam tuntutan disampaikan mulai dari tunjangan DPR yang naik, korupsi di berbagai level. Adapula aspirasi terkait tambang ilegal, pungli di tempat pariwisata hingga korupsi makanan pendamping.
Mahasiswa juga menyuarakan tindakan represif kepolisian saat menertibkan demonstrasi hingga terakhir terjadi kericuhan di Unisba dan Unpas.
Peserta aspirasi juga menyoal soal banyaknya kampus yang tidak mendapat undangan dalam acara tersebut. Perwakilan mahasiswa menilai acara tersebut bersifat politis karena tidak memberikan ruang yang luas bagi publik menyuarakan aspirasi.
"Dari tadi bapak-bapak DPRD yang ada disini mendengarkan atau tidak sih? Dari tadi duduk nunduk lihat handphone, tidak mencatat aspirasi kami,"
ujar salah seorang perwakilan mahasiswa. Meski ada penyampaian orasi yang cukup keras, acara berlangsung kondusif. Areal Gedung Sate sendiri dikawal ketat oleh aparat keamanan
(*)
