![]() |
| Jembatan Cipedak, Desa Cijemit, Kecamatan Ciniru, akibat hantaman arus deras luapan air sungai, |
Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si langsung melakukan peninjauan ke lokasi kejadian yang hadir didampingi Sekda Uu Kusmana, S.Sos, M.Si, jajaran Dinas PUTR, BPBD, Camat, Kapolsek, dan Danramil, mengatakan, curah hujan ekstrem disertai angin kencang telah menyebabkan sejumlah kejadian bencana di beberapa titik, termasuk di Desa Cijemit.
Menurut informasi dari Kepala Desa, kejadian debit air sungai yang meningkat drastis, bahkan hingga mencapai ketinggian 8 meter seperti ini, merupakan kejadian pertama kalinya selama empat tahun,” kata Dian.
Akibatnya, menurut Bupati Dian, material jembatan berupa besi konstruksi yang belum terpasang permanen ada yang hanyut terbawa arus sungai. Padahal, jembatan yang menjadi akses vital penghubung wilayah Ciniru, Gunungmanik, Pinara, hingga Cipedak itu tengah dalam proses pembangunan.
Ini kejadian luar biasa yang tidak terduga. Material besi yang terbawa arus masih diupayakan untuk bisa dimanfaatkan kembali,” ujarnya.
Dian mengungkapkan, bahwa Pemerintah Daerah akan terus berikhtiar atau berupaya maksimal agar pembangunan jembatan ini dapat segera diselesaikan. Disamping itu, Dian juga meminta agar pemerintah desa bersama tim terkait, dan rekanan untuk melakukan pemanfaatan kembali material yang masih memungkinkan digunakan, dimana material yang terseret banjir tersebut tak jauh sekitar lokasi.
Saya minta segera dibangun jembatan sementara guna menjaga akses mobilitas masyarakat, mengingat jalur penghubung tersebut sangat penting bagi aktivitas warga, termasuk distribusi hasil pertanian,” ungkap Dian.
Sementara Kabid Bina Marga DPUPR, Teddy Sukmajayadi, S.T, M.Si memastikan pekerjaan fisik tetap berjalan meski dihadapkan pada sejumlah kendala teknis di lapangan, “Secara umum pekerjaan tetap berjalan. Beberapa bagian utama masih dalam kondisi aman untuk dilanjutkan,” ucapnya.
Teddy memaparkan, struktur abutmen di sisi utara dan selatan jembatan saat ini dalam kondisi stabil. Sementara itu, bagian sayap utara juga telah diperbaiki dan dinyatakan aman setelah sebelumnya terdampak banjir. Untuk mempercepat pekerjaan,
tim rekanan berencana mendatangkan alat berat tambahan berupa ekskavator berkapasitas lebih besar, terutama untuk membantu proses evakuasi dan pemasangan material di area sungai.
Namun demikian, tantangan utama di lapangan saat ini adalah penanganan material besi jembatan sepanjang 50 meter yang sempat terbawa arus. Dari lima bagian yang ada, satu bagian mengalami kondisi cukup berat sehingga sulit digunakan kembali.
Material besi yang terbawa arus sedang kami upayakan untuk ditarik kembali. Jika memang tidak memungkinkan diperbaiki, maka akan dilakukan penggantian demi menjamin keamanan struktur,” terangnya.
Teddy memaparkan, akibat kondisi tersebut, ditambah faktor cuaca yang belum stabil serta hilangnya pilar tengah jembatan, waktu penyelesaian diperkirakan mengalami penyesuaian.
Hingga target penyelesaian mundur sekitar tiga minggu dari jadwal semula. Tanpa pilar tengah yang terbawa arus, tim harus menerapkan metode kerja ekstra untuk mengangkat dan memasang kembali struktur besi yang cukup berat.
Meski begitu, ia menerangkan tidak ada kerusakan fatal pada desain utama jembatan. Pemerintah daerah tetap berkomitmen menyelesaikan pembangunan dengan kualitas yang kokoh dan aman.
Terpenting adalah keamanan dan kekuatan struktur. Kami upayakan akses masyarakat bisa segera normal kembali,” terangnya.
Peristiwa itu sendiri terjadi akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Kuningan, termasuk di Kecamatan Ciniru pada Sabtu (28/3/2026), sekitar pukul 17.30 WIB menyebabkan debit air Sungai Cijemit meningkat signifikan hingga menyeret material pembangunan tuturnya
(*)

