![]() |
| Upacara Seren Taun Gelar Di Cigugur Budaya dan Legalitas Masyarakat Adat |
KABUPATEN KUNINGAN,|| Upacara Adat Seren Taun Tahun 1957 Saka di Paseban Tri Panca Tunggal, Cigugur, Kabupaten Kuningan, berlangsung khidmat dan meriah, Minggu (7/6/2026).
Tradisi budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut kembali menjadi ruang perjumpaan berbagai elemen masyarakat dalam merayakan rasa syukur, memperkuat persaudaraan, serta menjaga warisan budaya leluhur.
Puncak perayaan Seren Taun dihadiri Bupati Kuningan Dr. H. Dian Rachmat Yanuar, M.Si., Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Kekayaan Intelektual Kementerian Kebudayaan RI I Made Dharma Suteja, Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hj. Ika Siti Rahmatika, S.E., Ketua DPRD Kabupaten Kuningan Nuzul Rachdy, S.E., unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah
(Forkopimda) Kabupaten Kuningan atau yang mewakili, Kapolres Kuningan, Danramil Cigugur Kapten Arh Suboso, istri almarhum Pangeran Djatikusumah Amelia Djatikusumah,
Pupuhu Masyarakat Adat Sunda Wiwitan Pangeran Gumirat Barna Alam, Ketua Panitia Seren Taun Dewi Kanti Setianingsih, Pangeran Abdul Gani Natadiningrat, S.E. dari Keraton
Kacirebonan, Paden Entol Rahmat Suhadi dari Kasepuhan Cirebon, Lukman Soemadi Soria dan R. Nia Kurniasih dari Kraton Sumedang Larang, serta Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia I Nyoman Gede Agus Asrama.
Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar menegaskan bahwa Seren Taun bukan sekadar perayaan panen, melainkan sebuah perjalanan kehidupan yang mengajarkan manusia untuk hidup selaras dengan alam, sesama manusia, dan Tuhan Yang Maha Kuasa.
“Seren Taun bukan sekadar perayaan panen semata. Seren Taun adalah perjalanan kehidupan yang mengajarkan bahwa manusia tidak pernah bisa hidup sendiri. Ada tanah yang memberi kehidupan, ada air yang menghidupkan,
ada matahari yang menerangi, ada sesama yang menguatkan, dan ada Tuhan Yang Maha Kuasa yang menjadi sumber segala keberkahan,” ujarnya.
Menurut Bupati, di tengah arus perkembangan zaman yang semakin cepat, masyarakat tidak boleh kehilangan akar budaya yang menjadi identitas dan kekuatan bangsa.
Pohon yang besar bukan hanya karena rantingnya menjulang tinggi, melainkan karena akarnya menghujam ke bumi. Begitu pula sebuah bangsa, akan tetap tegak apabila mampu menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan oleh para leluhurnya,”Ujarnya .
Bupati juga menyampaikan kebanggaannya karena Seren Taun telah berkembang menjadi salah satu ikon budaya Kabupaten Kuningan yang dikenal hingga tingkat nasional bahkan internasional.
“Ketika orang berbicara tentang Kuningan, mereka tidak hanya berbicara tentang alam yang indah atau kuliner, tetapi juga berbicara tentang Cigugur dan Seren Taun,” ungkapnya.
Bupati Seren Taun sebagai miniatur Indonesia yang menunjukkan bagaimana keberagaman dapat hidup berdampingan dalam suasana harmonis. Menurutnya, masyarakat Cigugur telah memberikan teladan bahwa perbedaan keyakinan, budaya, dan tradisi bukan menjadi tembok pemisah, melainkan jembatan persaudaraan.
“Keberagaman bukan ancaman, tetapi anugerah. Persatuan bukan berarti harus sama, melainkan bagaimana berbagai perbedaan dapat berjalan bersama menuju tujuan yang sama,” tegasnya.
Sebagai bentuk komitmen Pemerintah Kabupaten Kuningan terhadap pelestarian budaya, Bupati mengungkapkan bahwa Seren Taun akan didorong menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan yang mendapatkan dukungan berkelanjutan dari pemerintah daerah.
“Tahun depan insyaallah Seren Taun akan menjadi bagian dari kalender budaya Kabupaten Kuningan dan akan kita dukung sebagai upaya pelestarian budaya sekaligus penguatan sektor pariwisata daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Yayasan Tri Panca Tunggal sekaligus Ketua Panitia Seren Taun, Dewi Kanti Setianingsih, menjelaskan bahwa Seren Taun tahun ini mengusung tema “Merdika Ngolah Rasa untuk Masa Depan Bangsa”. Tema tersebut menegaskan bahwa Seren Taun tidak hanya menjadi tradisi syukur panen, tetapi juga sarana refleksi sosial dan kebangsaan yang mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kemanusiaan.
Pada kesempatan yang sama, I Made Dharma Suteja, S.S., M.Si. Direktur Pemberdayaan Nilai Budaya dan Fasilitasi Kekayaan Intelektual (PNBFKI) di bawah Direktorat Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menyampaikan apresiasi atas konsistensi masyarakat Cigugur dalam menjaga tradisi budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
, Seren Taun merupakan salah satu representasi budaya agraris Nusantara yang memiliki nilai luhur dan relevan dengan kehidupan masa kini. Ia menekankan pentingnya menjaga lahan pertanian, sumber daya air, serta keberlangsungan profesi petani sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari pelestarian budaya.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan Seren Taun yang terus hidup dan berkembang. Tradisi seperti ini merupakan kekayaan budaya bangsa yang harus dijaga, didokumentasikan, dan diwariskan kepada generasi mendatang,” ujarnya.
Puncak Seren Taun 1957 Saka semakin semarak dengan berbagai penampilan seni budaya yang merepresentasikan kekayaan tradisi Nusantara. Hadirin disuguhkan Tari Puragabaya Gebang yang menampilkan semangat kepahlawanan dan kebudayaan Sunda, dilanjutkan dengan pertunjukan Angklung Kanekes dari masyarakat Baduy serta Angklung Buncis yang menjadi bagian dari tradisi masyarakat agraris Kabupaten Kuningan.
Selain itu, Tari Buyung turut memukau para tamu undangan melalui gerakan yang menggambarkan kedekatan masyarakat Sunda dengan alam dan sumber kehidupan. Penampilan spesial juga datang dari Pulau Dewata melalui Tari Rejang Renteng yang dibawakan oleh perempuan-perempuan yang telah menikah dalam jumlah ganjil. Tarian sakral yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda UNESCO tersebut menjadi simbol penghormatan, rasa syukur, dan persembahan kepada Sang Pencipta.
Rangkaian prosesi adat turut menjadi inti pelaksanaan Seren Taun, mulai dari Helaran Memeron yang melibatkan partisipasi masyarakat dalam arak-arakan budaya, Ngajayak sebagai bentuk penyambutan dan penghormatan, Pangrajah yang sarat doa dan harapan keselamatan,
hingga prosesi Penumbukan Padi sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi dan penghormatan terhadap tradisi pertanian yang diwariskan para leluhur.
Melalui berbagai ritual dan pertunjukan budaya tersebut, Seren Taun kembali menegaskan posisinya sebagai salah satu warisan budaya penting di Kabupaten Kuningan yang tidak hanya menjaga tradisi leluhur, tetapi juga memperkuat persatuan, toleransi, dan identitas kebangsaan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.
Dengan semangat kebersamaan yang terus terjaga, Seren Taun Cigugur diharapkan tetap menjadi sumber inspirasi, sumber persatuan, dan sumber kebijaksanaan bagi masyarakat Kuningan, Jawa Barat, serta Indonesia untuk generasi-generasi yang akan datang.
(As)



























