Notification

×

Iklan

Iklan

Dedi Mulyadi: Sunda Adalah Laboratorium Hidup, Bukan Sekadar Identitas

Minggu, 23 November 2025 | November 23, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-23T12:55:26Z

geografis, tetapi merupakan sebuah laboratorium hidup yang menyimpan filosofi mendalam tentang tata ruang

KABUPATEN BANDUNG, || Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan bahwa Sunda bukan hanya identitas etnis, ras, maupun wilayah geografis, tetapi merupakan sebuah laboratorium hidup yang menyimpan filosofi mendalam tentang tata ruang, lingkungan, dan cara hidup masyarakatnya.


Pernyataan tersebut disampaikan Dedi dalam Puncak Musyawarah Tahunan II Majelis Musyawarah Sunda di Bale Gemah Ripah, Gedung Sate Bandung, Sabtu (22/11/2025).


Menurutnya, konsep tata ruang Sunda mengandung aturan yang sangat relevan dengan kondisi lingkungan saat ini, yaitu: gunung kudu awian, lengkob kudu balongan, lebak kudu sawahan. Prinsip tersebut bermakna bahwa setiap kawasan memiliki fungsi ekologis yang harus dijaga.


Dalam penjelasannya, Dedi menyebut kawasan gunung atau perbukitan wajib dipertahankan sebagai area hijau dengan tanaman-tanaman berkayu agar tanah tidak mengalami longsor atau erosi.


Sementara itu, lengkob atau lembah idealnya memiliki kantung air berupa kolam, balong, atau danau sebagai penampung cadangan air dalam siklus hidrologi.


Adapun kawasan dataran rendah, lanjutnya, seharusnya dimanfaatkan sebagai areal persawahan untuk sumber pangan pokok, terutama padi, sehingga keseimbangan ekologis dan ketahanan pangan tetap terjaga.


Jika prinsip tata ruang Sunda diterapkan secara konsisten, kata Dedi, potensi bencana hidrologis seperti banjir di hilir dan longsor di hulu bisa diminimalkan.


Karena itu, dirinya mendorong penerapan kembali pola ruang Sunda dalam pembangunan di Jawa Barat, termasuk pembongkaran bangunan liar di sempadan sungai serta pelarangan alih fungsi lahan agar ekosistem dapat kembali menjalankan fungsi alaminya.


Dedi juga mengingatkan para pemangku kepentingan untuk belajar dari masyarakat adat Sunda mengenai tata pembangunan, keberlanjutan lingkungan, dan filosofi hidup yang harmonis. “Masyarakat adat jangan hanya dikenalkan dengan budaya proposal, karena itu bertentangan dengan nilai budaya,” ujarnya.


(*)

×
Berita Terbaru Update