Notification

×

Iklan

Iklan

of Empathy Tegar Prastya Raih Trophy Humanity Dari Jaksa Agung RI

Rabu, 26 November 2025 | November 26, 2025 WIB | 0 Views Last Updated 2025-11-27T07:15:54Z

Malam puncak Simfoni Perdamaian: Journey of Empathy

JAKARTA, || Malam puncak Simfoni Perdamaian: Journey of Empathy yang digelar di Studio Grand Metro TV menghadirkan suasana penuh haru, refleksi, dan perayaan nilai kemanusiaan.


Di antara sorotan lampu dan alunan musik, nama Tegar Prastya, S.H., Kasi Pidana Umum Kejaksaan Negeri Sikka, menggema ketika menerima Trophy for Humanity dari Jaksa Agung RI.


Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan langsung oleh Jaksa Agung Republik Indonesia, Prof. Dr. H. Sanitiar


Burhanuddin, S.H., M.M., dalam prosesi penuh penghormatan. Tepuk tangan panjang dari para undangan menandai momen bersejarah itu, sekaligus mengukuhkan kontribusi Tegar dalam menghadirkan wajah penegakan hukum yang humanis.


Acara Simfoni Perdamaian merupakan panggung kolaboratif yang menyatukan musik, narasi empati, dan perjalanan panjang Metro TV dalam 25 tahun kiprahnya. Setiap segmen dirancang untuk memperkuat pesan inti bahwa empati merupakan bahasa universal yang mampu menyentuh setiap lapisan masyarakat.


Dalam momentum penyerahan penghargaan, host acara menyampaikan narasi yang menegaskan nilai kemanusiaan dari para penerima penghargaan.


“Setiap tokoh yang kita temui malam ini punya cerita yang menginspirasi. Mereka yang bekerja dalam senyap, menyalakan empati di tengah gelap. Malam ini, kita rayakan mereka, para penjaga nilai kemanusiaan,” ujar host di hadapan para hadirin.


Tegar Prastya tampil sebagai salah satu tokoh yang diakui, berdampingan dengan anggota kepolisian, militer, jurnalis senior, serta pekerja pelayanan publik lainnya. Keberadaannya merepresentasikan semangat baru institusi Kejaksaan, yang tidak hanya hadir sebagai penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga keseimbangan kemanusiaan.


Bagi Kejaksaan Republik Indonesia, khususnya Kejaksaan Negeri Sikka, penghargaan ini menjadi simbol komitmen bahwa keadilan bukan sekadar perkara hitam-putih hukum. Lebih dari itu, keadilan adalah proses pemulihan pemulihan hubungan sosial, keharmonisan masyarakat, dan kepercayaan publik terhadap institusi hukum.


Penganugerahan Trophy for Humanity kepada Tegar Prastya menjadi penegasan bahwa penegakan hukum harus bergerak seiring dengan perkembangan nilai-nilai kemanusiaan. Empati kini menjadi fondasi penting dalam setiap pengambilan keputusan, terutama dalam perkara-perkara yang menyangkut masyarakat kecil dan kelompok rentan.


Kehadiran Tegar di panggung penghargaan juga memberikan inspirasi bahwa perubahan bisa dimulai dari peran-peran yang sering tidak terlihat. Dedikasinya dalam menangani perkara dengan kearifan lokal, pendekatan dialog, serta mengutamakan pemulihan menjadi catatan penting bagi wajah baru Kejaksaan.


Metro TV sebagai penyelenggara menempatkan ajang ini sebagai ruang apresiasi bagi tokoh-tokoh yang memilih berjalan dalam senyap, namun dampak kerjanya riil di tengah masyarakat. Para penerima dipandang sebagai teladan etika publik yang patut diangkat ke permukaan.


Acara ini sekaligus menutup rangkaian perayaan 25 tahun Metro TV, yang sejak awal berdiri mengusung jurnalisme empatik dan narasi kemanusiaan. Dengan mengapresiasi para pelaku kemanusiaan, Metro TV mempertegas komitmennya sebagai media yang memuliakan nilai kemanusiaan dan kedamaian.


Pihak Kejaksaan RI berharap, penghargaan yang diterima Tegar dapat menjadi inspirasi bagi seluruh jaksa di tanah air untuk lebih mengedepankan nilai empati dalam penegakan hukum. Pendekatan yang lebih manusiawi diyakini mampu menghasilkan penegakan hukum yang lebih adil dan bermartabat.


Dengan penghargaan ini, Tegar Prastya tidak hanya membawa nama baik Kejari Sikka, tetapi juga menjadi simbol bahwa transformasi hukum Indonesia terus bergerak ke arah yang lebih inklusif, beretika, dan bermartabat. Empati kini bukan sekadar wacana, tetapi telah menjadi bagian nyata dari kerja-kerja kejaksaan.


Simfoni Perdamaian: Journey of Empathy pun ditutup dengan pesan reflektif bahwa kemanusiaan adalah dasar dari setiap langkah besar. Dan malam itu, Tegar Prastya menjadi salah satu bukti nyata bahwa empati bisa menjadi kekuatan utama dalam wajah baru penegakan hukum Indonesia.


(*)

×
Berita Terbaru Update