![]() |
| Penebaran 2.165 ekor ikan koi di Situ Cipanten, Desa Gunung Kuning, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka |
Bos Koi nasional Hartono Soekwanto secara langsung menghibahkan ribuan koi tersebut sebagai bentuk kepercayaan terhadap kualitas air Situ Cipanten yang masih alami dan tidak tercemar. Dari jumlah tersebut, 2.000 ekor koi bernilai Rp1 juta per ekor, sementara 165 ekor lainnya merupakan koi premium dengan harga Rp100 juta hingga Rp350 juta per ekor.
Menurut Hartono, kualitas lingkungan menjadi alasan utama dirinya berani melepas koi bernilai tinggi ke danau terbuka.
Saya menaruh koi terbaik di sini karena airnya bersih dan masih alami. Tapi semua itu hanya bisa bertahan kalau dijaga bersama. Jangan buang sampah, sabun, atau limbah ke danau,” tegasnya.
Kehadiran Bupati Majalengka Eman Suherman dalam kegiatan tersebut menegaskan dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan wisata berbasis konservasi. Ia menilai Situ Cipanten dapat menjadi contoh destinasi wisata alam yang tumbuh tanpa mengorbankan ekosistem.
Ini bukan hanya soal keindahan atau nilai ekonomi, tapi tanggung jawab kita menjaga anugerah alam. Kalau lingkungannya rusak, wisatanya juga akan mati,” ujar Eman.
Eman optimistis, jika dikelola dengan baik, Situ Cipanten mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekitar sekaligus mengedukasi wisatawan tentang pentingnya menjaga alam. Ia juga membuka peluang pengembangan wisata serupa di wilayah Majalengka yang memiliki potensi mata air alami.
Senada, artis sekaligus pegiat lingkungan Irfan Hakim menekankan bahwa koi di Situ Cipanten harus dipandang sebagai bagian dari ekosistem, bukan sekadar tontonan wisata.
Ini bukan untuk dieksploitasi. Koi ini hidup di sumber mata air yang murni. Kalau lingkungannya rusak, ikan-ikan ini yang pertama jadi korban,” katanya.
Irfan berharap kehadiran koi bernilai tinggi justru menjadi pengingat bagi masyarakat dan wisatawan untuk lebih peduli terhadap kebersihan dan keberlanjutan lingkungan.
Majalengka punya kekayaan alam luar biasa. Tantangannya bukan mencari yang baru, tapi menjaga yang sudah ada,” pungkasnya.
Dengan penebaran koi ini, Situ Cipanten tidak hanya diposisikan sebagai destinasi wisata unggulan, tetapi juga ruang edukasi dan simbol komitmen bersama dalam menjaga alam dan sumber kehidupan.
(*)

